Krayan, Potensimu Sungguh Luar Biasa

August 18, 2014 by: admin

Akan selalu menarik bicara tentang perbatasan. Sayangnya, hal menarik itu justru lebih banyak dibahas karena faktor keterbatasannya, bukan keunggulan potensi yang dimiliki. Kali ini, saya mencoba menulis seputar potensi besar yang tersimpan di  kawasan perbatasan di barat laut Kaltim, yakni Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan.

Tepat pukul 10.00 Wita dari Bandara Nunukan, saya dan rombongan dari Dinas Peternakan Kaltim, Ihyan Nizam (Kasi Perbibitan) dan Prof. Dr. Suhubdy dari Universitas Mataram NTB dengan pesawat komersial Susi Air,  terbang menuju Long Bawan. Sehari sebelumnya, rombongan dari Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Nunukan Desy SPt ( Kabid Peternakan dan staf), sudah berangkat lebih dulu.

Dari udara, saya melihat hamparan hutan  yang menghijau. Pemandangan ini akan selalu kita lihat. Menuju Krayan (Long Bawan), hanya ada dua  perusahaan yang biasa menerbangi rute ini, yaitu Susi Air dan Mission Air Fellowship (MAF), karena landasan Bandara Yuvai Semaring yang hanya 900 meter dengan lebar 23 meter.

krayan

Kabarnya, sudah ada perpanjangan landasan 200 meter dan selanjutnya yang diperpanjang lagi hingga 1.600 meter dengan lebar 30 meter sehingga bisa didarati pesawat dengan kapasitas lebih besar, sejenis Hercules. Saat ini, dengan pesawat jenis Grand Carravan milik Susi Air, maksimum penumpang yang bisa diangkut hanya 10 orang.

Mendekati Krayan, saya menyaksikan pemandangan yang sangat indah. Kecamatan Krayan yang bertetangga dengan Kecamatan Krayan Selatan dipagari gunung dan perbukitan. Dari udara,  Krayan bak sup dalam mangkuk raksasa. Begitu indah, memukau pandangan saya. Bagi saya, ini adalah potensi pertama Krayan.

Kondisi dan Potensi Krayan

Kecamatan Krayan mempunyai luas wilayah sekitar 1.837,54  kilometer persegi  dengan penduduk 2.077 kepala keluarga,  terdiri dari 4.271 jiwa perempuan dan 3.685 jiwa laki-laki. Penduduk asli adalah Suku Dayak Lundayeh. Luas Lahan pertanian pangan 2.500 hektare  antara lain ditanami  Padi Adan yang terkenal di Kaltim  dan konon merupakan beras makanan utama Sultan Hasanal Bolkiah dari Brunai Darussalam.

Seorang warga Krayan, Moris menyebutkan ada kurang lebih 60 macam padi  di Kecamatan Krayan.  Harga satu  kaleng beras (berat 15 kg) sekitar Rp200 ribu.  Produksi perhektare sekitar 3,5 ton gabah kering giling (GKG). Satu kepala keluarga (KK) mampu menghasilkan padi sampai 1,5 ton per tahun atau 750 hingga 1.000 kaleng beras setiap KK.

Krayan sangat subur karena cekungan dari bukit dan gunung menyebabkan unsur hara terkumpul karena proses leaching (etraksi padat cair). Sawah hijau terhampar pada 21 lokasi di 65 desa. Daerah ini sangat cocok ditanami Beras Adan yang merupakan beras yang sangat terkenal dan khas.

beras krayan

Beras ini berwarna putih dengan ukuran lebih kecil dari beras pada umumnya. Aromanya harum setelah dimasak. Rasanya pulen dan sedap meskipun dilahap tanpa lauk pauk dan sayuran. Ada tiga jenis Beras Adan yakni Adan Putih, Adan Hitam dan Adan Merah.

Menariknya, warga menanam padi tanpa pupuk kimia, hanya menggunakan pupuk kandang dari kotoran kerbau. Ada perpaduan penanaman padi dengan penggunaan kerbau dalam mengelola lahan pertanian. Panen padi dilakukan sekali setahun.

Pola tanamnya dimulai sejak dilakukan  persiapan  penebasan lahan sejak Maret hingga April. Lahan dibiarkan hingga Juni. Pada saat habis panen kerbau digembala di lahan sawah dan berakhir pada saat tanam. Pada saat itulah kerbau mengolah lahan sawah dengan menginjak-injak lahan sawah sampai akhirnya lahan tersebut siap ditanami.

Pada Juli hingga Agustus dimulai penanaman padi. Panen dilakukan antara Desember hingga Februari. Kira-kira demikianlah ungkapan perwakilan petani,  Ersan yang ikut dalam pertemuan dengan di rumah Kepala Desa Kuala Belawit.

Kerbau Krayan

Selain Padi Adan yang sangat terkenal, Krayan juga memiliki potensi ternak kerbau yang juga disukai masyarakat Brunai. Kepala Adat Krayan, Yagung Bangau menceritakan bahwa ternak kerbau merupakan simbol  prestise masyarakat Krayan.

Siapa yang memiliki kerbau banyak menunjukkan status sosial seseorang tinggi dan disegani. Dulu kalau seseorang ingin melaksanakan perkawinan, paling tidak harus memberikan jujuran 30 ekor kerbau.

Tetapi sekarang aturan adat ini sudah berubah dan jujuran untuk perkawinan hanya menyediakan tiga  ekor kerbau. Pada 1999 populasi kerbau masih sekitar sembilan ribu ekor dan berdasarkan hasil pendataan ternak 2011 yang dilaksanakan BPS, populasi ternak kerbau di Kecamatan Krayan sekitar 2.987 ekor.

Berdasarkan informasi dari masyarakat,  menjelang Hari Raya Idul Adha 2011,  jumlah kerbau yang keluar dari Long Bawan ke Ba’Klalan, Malaysia  dan sekitarnya berjumlah ratusan ekor. Perkembangan ternak kerbau memerlukan perhatian khusus,  terutama saat birahi. Peternak sering tidak memperhatikan waktu birahi kerbau  yang terjadi umumnya pada sore hari atau malam hari. Karena itu Kerbau betina dan pejantan harus digembalakan bersama sama agar betina yang birahi cepat dikawini pejantan agar cepat menghasilkan keturunan.

Perkembangan ternak kerbau di kawasan ini berjalan alami, sekaligus mematahkan teori yang menyatakan memelihara kerbau susah dan lambat berkembang. Bisa dikatakan satu ekor kerbau dalam satu  tahun dapat menghasilkan anak dan tidak jauh berbeda dengan ternak Sapi Bali.

Melihat kebiasaan warga Krayan, kerbau bisa dikelompokkan dalam berbagai kebutuha, yakni sebagai mas kawin. Sekarang harus menyiapkan tiga  ekor kerbau sebagai jujuran. Kemudian  sebagai pengolah tanah pada lahan sawah yang menghasilkan Beras Adan dan  sebagai hewan ternak yang dijual untuk biaya melanjutkan pendidikan.

Selanjutnya ternak kerbau juga berfungsi sebagai tabungan yang sewaktu-waktu bisa digunakan, misalnya  ketika ada keluarga sakit dan memerlukan pembiayaan pengobatan.

Harga kerbau dewasa (umur 1,5 sampai 2 tahun ) berkisar 2.000  hingga 3.500 Ringgit Malaysia atau setara dengan Rp7 juta hingga Rp9 juta  (  kurs 1 ringgit Rp3000) untuk betina dan Rp10 juta hingga Rp12 juta untuk pejantan.

Menanggulangi penurunan populasi kerbau di daerah itu,  akan dilakukan langkah-langkah sebagai berikut,  yakni memasukkan kerbau pejantan untuk mengurangi inbreeding (kawin keluarga) dari luar Long Bawan. Sehingga digalakkan intensifikasi kawin alam (Inka) dan gerakan massal inseminasi buatan dengan menggunakan straw kerbau unggul untuk memperbaiki kualitas kerbau di Krayan.

Selanjutnya menggalakkan pemanfaatan jerami sebagai pakan ternak yang selama ini tidak dimanfaatkan. Selain itu juga menggalakkan penanaman rumput pakan ternak dan penanaman legum pohon, misalnya  gamal dan lainnya. Kemudian pembuatan kawasan penggembalaan ternak kerbau sehingga deteksi birahi kerbau dapat dilakukan cepat melalui kerbau-kerbau pejantan.

Apel dan Nenas

Potensi lain di Krayan adalah apel dan nenas. Sekitar 1997 ada program penanaman apel di wilayah Long Bawan. Bibit berasal dari Malang yang disebar kepada kelompok tani. Entah bagaimana  bibit tersebut mungkin tidak semua ditanam petani dan sebagian bibit dijual ke wilayah tetangga Ba’Klalan.

Saat ini di Long Bawan sulit menemukan apel Malang, tetapi di Ba’Klalan apel bisa tumbuh subur dan memproduksi banyak buah tersebut. Mengapa bisa berproduksi dengan baik karena petani Ba’Klalan mendatangkan petani dari Malang dan membudidayakan layaknya di Malang sehingga Ba’Klalan saat ini terkenal sebagai kota penghasil apel.

Selain apel, Kecamatan Krayan juga terkenal dengan tanaman Nenas yang diproduksi dari beberapa desa, yakni Long Api, Long Umung, Kampung Baru dan lainnya. Harga Nenas di Long Bawan sekitar  Rp3.000 sampai Rp4.000 perbuah, tetapi saat sampai di Nunukan harganya lebih mahal. Ongkos angkut barang dari Long Bawan sampai Nunukan Rp15.000 per kg. Sedangkan nenas yang harganya Rp4.000 per butir bila dibawa ke Nunukan maka harganya bisa mencapai Rp20.000 perbutir.

Potensi lainnya adalah tanaman hortikultura, berupa kubis  dan kacang tanah. Tanaman ini  tumbuh baik di Long Bawan. Komoditi sayuran tersebut banyak dijual di warung-warung pada pagi hari. Petani yang menanam masih sangat terbatas dan memerlukan pengalaman bercocok tanam. Kebanyakan petani yang menanam berasal dari Jawa dan Tana Toraja. Krayan, sesungguhnya memiliki potensi luar biasa. Kita tunggu saja, pada saatnya, Krayan akan berjaya.

Oleh : Ir. H Ibrahim MP (Penulis adalah Kepala Dinas Peternakan Kaltim).

Leave a Reply